Wednesday, October 2, 2013

Sastra Islami: Struktur atau Maknanya?


Fenomena Ayat-Ayat Cinta mampu menjadi pintu masuk lahirnya kembali sastra Islami. Sebelumnya pada tahun 90-an sudah mulai booming munculnya karya fiksi Islami berupa cerpen-cerpen yang dimuat di beberapa majalah seperti Sabili, Ummi, Ash Sholihat, Annida, dan lainnya.

Di tahun 2000-an sastra Islami seakan hilang menyublim dan bergantung di atas awan penantian. Dan akhirnya melalui Kang Abik dengan AAC-nya, turunlah tetes-tetes air hujan yang akhirnya menjadi mata air yang melahirkan banyak karya sastra Islami.

Ciri khas sastra genre ini adalah banyaknya penggunaan kata-kata dalam bahasa Arab, juga kutipan ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi. Namun, apakah karya sastra yang tidak memuat dan atau berbau Islam banget tidak bisa dikatakan sastra Islami?

Akan menjadi masalah apabila kita melabeli sebuah novel atau cerpen sebagai sastra Islami hanya dengan melihat struktur lahirnya saja (misalnya, diksi dalam bahasa Arab, latar cerita di negri Timur Tengah atau di Pesantren, adanya kutipan ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi).

Sebagai contoh novel Perempuan Berkalung Sorban yang mengambil latar di pesantren. Dari strukturnya, novel tersebut terlihat sebagai novel Islami. Namun, setelah novel itu difilmkan dan tayang di bioskop beberapa minggu, MUI mengeluarkan larangan beredarnya film tersebut dengan alasan film Perempuan Berkalung Sorban merupakan film yang salah dan tidak sesuai dengan syari’at Islam.

Untuk memetik ajaran-ajaran Islam dalam karya sastra, semestinya kita tidak hanya melihat strukturnya yang kental dengan suasana Islam banget. Kita harus lebih melongok lebih dalam untuk melihat makna yang dikandung dalam karya sastra itu.

Kita tengok cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Kita ketahui cerpen itu tidak dilabeli sebagai sastra Islami. Namun, kita akui cerpen tersebut membawa nilai-nilai ajaran Islam yang mendalam tanpa kehilangan nilai estetika sastranya. Karya sastra yang dilabeli sebagai sastra Islami atau sastra dakwah saat ini sebagian besar kehilangan nilai estetika sastra. Seolah cukup dengan mengutip ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi dan diramu dengan kisah rekaan jadilah sastra Islami.

Penulis sastra Islami cenderung terlalu fokus pada amanat yang akan disampaikan. Akibatnya, amanat tersebut disampaikan secara eksplisit, baik melalui teks Al-Qur’an dan hadits maupun melalui dialog tokoh. Maka, yang terjadi adalah para pembaca tinggal memungut –tanpa berpikir dan merenung– amanat yang sudah eksplisit tersebut. Di sinilah nilai estetika sastra dari novel semacam itu tereduksi.


Haji Abdul Malik Karim Abdullah yang terkenal dengan nama singkatannya, yaitu HAMKA adalah contoh seorang ulama yang mengarang novel yang tidak kehilangan nilai estetika sastranya. Novel Di Bawah Lidungan Ka’bah menyuguhkan cerita yang sangat menarik yang mampu membuat pembacanya merenung serta memetik hikmah dan amanatnya.

Dapat juga kita menilik Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis. Novel yang mendapat hadiah dari Yayasan Buku Utama sebagai buku terbaik tahun 1975 ini menyuguhkan kisah tentang rombongan pencari kayu damar yang diburu oleh seekor harimau. Dalam kisah yang menegangkan tersebut, Mochtar Lubis secara implisit menyampaikan amanat bahwa sebenarnya setiap orang mempunyai sifat harimau (sifat buas/buruk), maka setiap orang haruslah senantiasa membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela tersebut.

Sastra Islami tidaklah melulu karya sastra yang penuh dengan kutipan ayat Al-Qur’an atau hadits Nabi tetapi lebih pada makna yang terkandung dalam karya sastra itu. Maka, dinanti-nanti munculnya karya sastra yang mengajarkan nilai-nilai Islam tanpa kehilangan nilai estetika sastra. Karya sastra yang tidak menggurui tetapi mampu menyentuh hati pembacanya. Karya sastra yang tidak menceramahi tetapi menginspirasi dan menggunggah.


Oleh: Sukrisno Santoso
Sukoharjo, 12 April 2011
 
 

No comments:

Post a Comment